Sejarah Forkom
Meskipun periode 1980-an dan 1990-an ditandai dengan perkembangan teknologi kesehatan yang semakin canggih dan kompleks, banyak rumah sakit pada saat itu harus menghadapi tantangan yang tidak mudah. Bagi rumah sakit yang berlandaskan filosofi sosial seperti Husada, persoalan yang dihadapi bahkan jauh lebih beragam dan rumit. Salah satu tantangan tersebut adalah masalah pengelolaan dan administrasi, termasuk di dalamnya efisiensi operasional dan juga transparansi.
Selain itu, masalah pembiayaan kesehatan juga menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius. Masih banyak masyarakat yang kesulitan membayar biaya layanan kesehatan, sementara sistem asuransi kesehatan saat itu masih belum berkembang dengan baik, sehingga akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi terbatas. Sebagai rumah sakit yang didirikan dengan spirit pelayanan sosial, tentu pantang bagi Husada untuk menolak pasien. Namun, dengan tantangan globalisasi yang semakin kompleks, pengurus Perkumpulan Husada harus memutar otak agar keuangan rumah sakit tidak terus-menerus mengalami defisit.
Di sisi lain, persoalan lain yang dihadapi RS Husada adalah keterbatasan infrastruktur. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak rumah sakit pada masa itu yang masih terkendala dalam hal fasilitas dan peralatan medis. Tantangan serupa juga dihadapi oleh rumah sakit Tionghoa di kota lainnya, yang memiliki spirit pengabdian serupa Husada, seperti RS Telogorejo di Semarang, RS Adi Husada (Surabaya), RS Panti Nirmala (Malang), dan RS Dr. Oen (Solo).
Melihat bahwa permasalahan yang dihadapi kelima rumah sakit ini tidak jauh berbeda, pada 9 Desember 1988, atas prakarsa Djoenaedi Joesoef, Ketua Pembina dari RS dr. Oen Surakarta, diadakanlah pertemuan pertama di Solo yang melibatkan pengurus dari kelima rumah sakit ini. Dalam pertemuan tersebut, Djoenaedi menyebut pentingnya bagi rumah sakit Tionghoa untuk berserikat dan bertemu secara rutin. Ia pun sempat bertanya: “Mengapa hanya ada lima rumah sakit? Mengapa orang Tionghoa sekarang tidak lagi memiliki semangat untuk membangun rumah sakit baru yang berlandaskan sosial di kota-kota lain?”
Pertemuan bersejarah tersebut menjadi pondasi awal bagi terbentuknya Forum Komunikasi (FORKOM) yang menaungi yayasan-perkumpulan, rumah sakit, serta AKPER dari kelima institusi tersebut. FORKOM diharapkan dapat menjadi wadah yang memfasilitasi komunikasi, kolaborasi, dan pertukaran informasi di antara kelima rumah sakit Tionghoa ini. Melalui sinergi ini, diharapkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat semakin ditingkatkan. Para pengurus juga berharap kehadiran FORKOM ini bisa menjadi pendorong bagi lahirnya rumah sakit Tionghoa lain yang berlandaskan filosofi sosial di daerah-daerah lain.

Djoenaedi Joesoef, pendiri dari perusahaan farmasi Konimex dan Ketua Pembina dari RS dr. Oen Surakarta. Beliau merupakan inisiator awal dari berdirinya FORKOM. Foto di atas diambil dalam pertemuan FORKOM ke-32 yang diselenggarakan Perkumpulan Husada di Jakarta, 11 – 13 Oktober 2018. Sumber: Koleksi Foto Perkumpulan Husada
Akan tetapi, selama enam tahun pertama, forum ini tampaknya belum berfungsi secara optimal. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya keterbukaan di antara para pengurus rumah sakit, serta adanya rasa sungkan untuk saling meminta bantuan. Namun, seiring berjalannya waktu, sekat-sekat tersebut perlahan mulai terkikis.
Pada 7 Januari 1995, sebagai bagian dari rangkaian acara ulang tahun Husada yang ke-70, ketua perkumpulan Husada saat itu, Winanto Wiryomartani, mengundang seluruh anggota FORKOM untuk bertemu di Jakarta. Sejak saat itu, mulai tumbuh rasa percaya dan saling membutuhkan, namun tetap dengan prinsip tidak mencampuri urusan rumah tangga masing-masing. Setelahnya, pertemuan pun terjalin lebih intensif. Seorang koordinator yang disebut ‘konvokator’ pun ditunjuk untuk membantu mengurus FORKOM ini.
Sejak saat itu, kelima rumah sakit ini pun mulai melakukan pertemuan rutin yang diselenggarakan secara bergiliran. Setiap pertemuan dihadiri setidaknya 80 partisipan, dengan topik pembahasan yang beragam dan tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan saja. Sering kali, dibahas topik-topik di luar kesehatan yang dianggap penting bagi pengembangan rumah sakit, seperti perpajakan, hubungan rumah sakit dengan media, persiapan rumah sakit dalam menyongsong era globalisasi, dan berbagai isu strategis lainnya. Menurut Djoenaedi Joesoef, pembahasan mengenai topik-topik ini penting untuk dilakukan dan dipahami secara lebih mendalam. Dalam salah satu kesempatan, ia pun berujar:
“Sekarang ini semua yayasan sosial dikenakan pajak. Pemerintah seperti tidak percaya kalau kita tidak ambil keuntungan dari usaha sosial seperti rumah sakit. Padahal, kalau kita bikin rumah sakit, apa sih untungnya? Mungkin tidak dipahami bahwa investasi rumah sakit tidak pernah dihitung. Bila ada pendapatan, biasanya akan digunakan untuk investasi lebih jauh, seperti penambahan dan perbaikan fasilitas medis supaya rumah sakit ini dapat terus berkembang dan bersaing.”
Lebih jauh lagi, Djoenaedi pun mengingatkan bahwa pengelolaan rumah sakit berbeda dengan mengelola perusahaan pada umumnya. Oleh karena itu, ia menekankan agar rumah sakit jangan sampai berhutang.
Selain itu, saya selalu menekankan agar rumah sakit jangan sampai berhutang. Bagi sebuah lembaga jasa, hutang sangatlah berbahaya. Kalau perusahaan manufaktur berhutang, ia tetap bisa membayar dengan menjual murah produknya, bila terpaksa. Tapi untuk sektor jasa, kita bisa menjual apa?
Dalam salah satu pertemuan FORKOM yang diadakan pada tahun 1997, sempat muncul usulan untuk mendirikan rumah sakit berorientasi sosial di tingkat kota hingga kabupaten. Namun, gagasan tersebut harus terhenti setelah pecahnya kerusuhan Mei 1998. Seluruh rumah sakit anggota FORKOM menghadapi masa sulit akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, sehingga kegiatan mereka lebih difokuskan untuk sekadar bertahan.
Setelah melewati masa-masa krisis, kerja sama yang terjalin di antara anggota FORKOM pun semakin solid. Melalui program pelatihan bersama, standar pelayanan kesehatan di kelima rumah sakit ini terus ditingkatkan. Selain itu, mereka secara rutin mengadakan proyek penelitian medis bersama, yang menghasilkan berbagai temuan dan usulan penting bagi perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia.
Tidak hanya berbagi informasi mengenai kesehatan, FORKOM juga berperan dalam berbagai inisiatif sosial dan kemanusiaan, seperti program kesehatan masyarakat dan bantuan bencana. Ketika pandemi COVID-19 mencapai puncaknya di Indonesia antara 15 Juli 2021 hingga 16 Februari 2022, kelima rumah sakit ini saling mendukung untuk memastikan ketersediaan vitamin, obat-obatan, hingga oksigen dapat terpenuhi. Kolaborasi lintas rumah sakit ini mencerminkan semangat gotong-royong yang menjadi landasan kuat bagi seluruh anggota FORKOM.
Dalam FORKOM ke-35 yang diselenggarakan di Solo pada 19-21 Oktober 2023, tema “Pengembangan Institusi Kesehatan di Era Transformasi Sistem Kesehatan” menjadi fokus utama. Sejalan dengan kebutuhan zaman, pertemuan ini menegaskan komitmen kelima rumah sakit anggota FORKOM untuk terus memperkuat perannya dalam transformasi layanan kesehatan yang semakin pesat.
Kemudian, pada 3–5 Oktober 2024, Perkumpulan Husada menjadi tuan rumah untuk FORKOM ke-36 dengan tema “Transformasi Layanan Kesehatan dalam Era Society 5.0.” Pertemuan ini membahas berbagai strategi menghadapi tantangan dan peluang dalam era digital, dengan penekanan pada teknologi dan inovasi kesehatan. Djoenaedi Joesoef, inisiator awal FORKOM, juga turut hadir dan memberikan apresiasi atas keberlanjutan forum ini, seraya berharap agar semangat pelayanan sosial yang telah terbangun dapat terus terjaga.

Para delegasi dari kelima rumah sakit yang tergabung dalam FORKOM. Foto di atas merupakan pertemuan FORKOM ke-32 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Husada di Jakarta, 3-5 Oktober 2024. Sumber: Koleksi Foto Perkumpulan Husada.
Akar Historis
Sejarah menunjukkan, cikal-bakal kemunculan FORKOM sejatinya sudah tampak sedari tahun 1920-an dan 1930-an. Sekalipun tidak bernaung di bawah suatu institusi resmi, jalinan kerja sama di antara kelima RS ini ternyata sudah lama terjadi, bahkan ketika kelimanya masih berbentuk poliklinik. Sebelum kembali ke Indonesia dan membuka praktik di Batavia, dr. Kwa Tjoan Sioe sudah aktif menjalin hubungan erat dengan dokter-dokter Tionghoa yang kelak mempelopori berdirinya poliklinik-poliklinik berbasis sosial di Jawa. Sebut saja nama-nama seperti dr. Oei Kiauw Pik, dr. Tan Ping Ie, dr. Ongkiehong, dr. Sim Kie Ay, hingga dr. Liem Ghik Djiang, yang rutin berdiskusi dan berkorespondensi dengan dr. Kwa ketika sama-sama tengah menempuh studi di Eropa.
Berdirinya JSI pada 28 Desember 1924 sejatinya tidak lepas dari peranan para dokter-dokter di atas. Dr. Kwa menyebut bagaimana ia kerap berdiskusi dengan mereka sebelum akhirnya mendirikan Polikliniek JSI dan juga RS JSI. Melalui koneksi ini, JSI pun kerap mendapat bantuan tenaga kesehatan dan juga obat-obatan.
Apa yang dilakukan oleh dr. Kwa ternyata menginspirasi dokter-dokter Tionghoa lainnya untuk mewujudkan gerakan serupa di kota lainnya. Mereka rutin meminta saran dari dr. Kwa yang dianggap sebagai pionir dari gerakan tersebut. Kira-kira setahun berselang, tepatnya pada 29 November 1925, didirikanlah “Polikliniek Tionghoa” atau “Lang Tjhwan Tiong Hoa Ie Wan” (THIW) yang berlokasi di Gang Gambiran, Semarang. Sebagai informasi, poliklinik ini merupakan cikal-bakal dari RS Telogorejo yang kini berkembang menjadi salah satu rumah sakit terkemuka di Jawa Tengah. Menariknya, dalam Anggaran Dasar dari poliklinik ini tertera nama dr. Kwa. Ia dipercaya sebagai salah satu komisaris yang menunjukkan bagaimana kemampuannya dalam mengelola JSI dibutuhkan juga di THIW.

Pasal 10 dari Statuta Polikliniek Tionghoa/Lang Tjhwan Tiong Hoa Ie Wan (sekarang RS Telogorejo) yang menerangkan susunan kepengurusan awal institusi kesehatan ini pasca resmi berbadan hukum. Tampak nama dr. Kwa Tjoan Sioe duduk sebagai salah satu komisaris di dalamnya. Sumber: “Vereeniging Lang Tjhwan Tiong Hwa Ie Wan te Semarang,” Statuten No. 159 (No. 2x), Javasche Courant, 16 Juni 1929.
Gerakan perbaikan kesehatan yang terjadi di Batavia dan juga Semarang dalam sekejap merembet ke kota-kota lainnya, seiring dengan kembalinya dokter-dokter Tionghoa ke Indonesia pasca menempuh pendidikan dokter di Eropa. Menyaksikan tingginya angka kematian ibu dan anak di Surabaya, dr. Oei Kiauw Pik pun berinisiatif untuk mendirikan sebuah poliklinik untuk masyarakat kurang mampu, yang kelak bertransformasi menjadi “Soe Swie Tiong Hoa Ie Wan” (sekarang RS Adi Husada). Momen bersejarah itu terjadi pada 25 November 1927 dan menjadi begitu vital lantaran berhasil membawa perbaikan dalam urusan higienitas, yang kemudian berimplikasi terhadap penurunan angka mortalitas di kalangan penduduk Tionghoa dan Bumiputera. Dalam perkembangannya, Poliklinik ini mendapat uluran tangan dari dua orang dokter lulusan Eropa: dr. Lie Ing Tien dan dr. Liem Ghik Djiang. Mereka kelak memelopori berdirinya “Tiong Hwa Ie Sia” (sekarang RS Panti Nirmala) pada 1 Oktober 1929. Menariknya, nama dr. Liem ternyata sempat melayani sebagai salah dokter di JSI pada awal 1930-an.

Makan malam perpisahan untuk dr. Liem Ghik Djiang yang diadakan pengurus JSI sebelum sang dokter kembali ke Malang. Sumber: Sin Po Wekelijksche Editie, 7 Mei 1932.
Lalu pada 29 Januari 1933, lahir juga Polikliniek “Tsi Sheng Yuan” (sekarang RS dr. Oen) di Solo yang kelak menjadi begitu identik dengan sosok dr. Oen Boen Ing. Nama dr. Oen sendiri pernah tercatat sebagai sekretaris dari Perkumpulan JSI pada 1929, ketika Perkumpulan ini tengah berada pada titik nadirnya lantaran krisis berkepanjangan. Bersama dengan pengurus kala itu, dr. Oen mengupayakan agar JSI tidak sampai bubar. Baginya, apa yang telah diberikan JSI kepada masyarakat terlalu berharga, sehingga akan menjadi suatu kerugian besar bila kontribusi yang selama ini diberikan JSI harus berakhir. Menariknya, berdirinya Tsi Sheng Yuan ternyata juga tidak lepas dari peranan dr. Kwa Tjoan Sioe. Dalam edisi 31 Januari 1933, harian Djawa Tengah sempat menulis:
Namanja Dr. Kwa Tjoan Sioe boeat sesoeatoe pembatja tentoe soeda tida asing poela, berhoeboeng dengen pendiriannja Tsi Sheng Yuan dari Tsing Nien Hui di sini haroes diakoeh Dr. Kwa ada bekerdja banjak boeat sokong pendirian terseboet.
Lebih jauh lagi, harian tersebut menambahkan bagaimana dr. Kwa “…ada bekerdja banjak dengen briken pikiran-pikirannja pada bebrapa dokter Tionghoa di sini (Solo), malah sebelonnja itoe poen soeda dibikin correspondentie boeat andjoerin pendirian itoe.” Informasi tersebut semakin menegaskan bagaimana sinergi di antara para dokter ini sudah terjalin dengan sangat erat
Pasca dr. Kwa berpulang pada 1948, dr. Oen sempat berpesan agar para dokter JSI tidak hanya menjadikan JSI sebagai batu loncatan untuk membuka praktik pribadi dan kemudian sama sekali lupa kepada JSI. Sebaliknya, ia berharap agar JSI dapat terus bertumbuh dan berkontribusi bagi Indonesia.
Bikinlah Jang Seng Ie satu centrum (pusat) pengetahuan, sebagai sumbangan kepada ibu Indonesia, menurut ideaal dari Dr. Kwa, jang dicristalliseerkan sebagai Jang Seng Ie, dan lupakanlah segala kegandjelan hati, semua salah faham…Apa jang kurang betul bitjaralah sesama, robalah tetapi djangan ambil tindakan-tindakan jang dapat meruntuhkan Jang Seng Ie.
Rangkaian data historis di atas menegaskan, perjalanan panjang yang dilalui oleh seluruh RS yang tergabung dalam FORKOM menunjukkan bahwa kekuatan kolaborasi yang dilandasi oleh spirit melayani dapat menjadi fondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kesehatan. Dari akar historis yang telah terjalin sejak awal abad ke-20, hingga pembentukan FORKOM di era modern, sinergi yang terbentuk di antara kelima rumah sakit Tionghoa ini tidak hanya memperkuat institusi masing-masing, tetapi juga memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Kehadiran JSI di dalamnya pun menjadi sebagai salah satu simpul penting yang merekatkan kolaborasi tersebut.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, FORKOM tetap teguh untuk mempertahankan nilai-nilai sosial yang menjadi akar pendiriannya. Sekalipun harus menghadapi berbagai rintangan, FORKOM telah membuktikan, melalui kerja sama yang erat, setiap tantangan dapat diatasi. Harapan untuk membangun lebih banyak rumah sakit berbasis sosial di masa depan pun tetap terjaga. Melalui sinergi dan inovasi yang berkesinambungan, FORKOM diharapkan tidak hanya fokus pada penguatan institusi masing-masing, melainkan terus memberikan kontribusi bagi pengembangan kesehatan Indonesia secara lebih luas. Kisah ini tidak hanya mencerminkan ketekunan dan dedikasi, tetapi juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus memperjuangkan nilai-nilai sosial dalam dunia kesehatan.
Sejarah Universitas Telogorejo Semarang
Universitas Telogorejo Semarang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pendidikan kesehatan di Indonesia. Perjalanan awal institusi ini dimulai dari penyelenggaraan Kursus Keperawatan sederhana pada tahun 1952 sebagai sebuah terobosan strategis untuk memenuhi kebutuhan tenaga perawat di rumah sakit serta mencetak generasi tenaga kesehatan yang kompeten dan profesional.
Perkembangan selanjutnya ditandai dengan pembukaan Pendidikan Pembantu Perawat pada tahun 1954, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Juru Kesehatan pada tahun 1963. Tiga tahun kemudia tepatnya pada tahun 196, namanya diubah menjadi Sekolah Pengamatan Kesehatan Umum, sebelum akhirnya kembali berubah nama menjadi Sekolah Pengatur Rawat pada 1969 jingga kemudia menjadi Sekolah Perawat Kesehatan.
Pada tahun 198-an seiring berkembangnya teknologi kedokteran, kebutuhan akan tenaga perawat dengan keterampilan sub-spesialis juga semakin meningkat. SPK Telogorejo dengan sigap menangkup kebutuhan tersebut dengan membuka berbagai pelayihan tambahan. Transformasi ke jenjang pendidikan tinggi dimulai pada tahun 1990 dengan berdirinya Akademi Perawat Telogorejo. Perjalanan tersebut berlanjut dengan perubahan status menjadi STIKES Telogorejo pada tahun 2007, yang memperluas cakupan keilmuan dan kualitas akademik.
Puncak perkembangan terjadi pada 25 Juni 2025, ketika institusi ini resmi bertransformasi menjadi Universitas Telogorejo Semarang. Perubahan status ini menandai dimulainya babak baru dalam sejarah Telogorejo, dari sebuah institusi pendidakan vokasional di bidang keperawatan menjadi pusat pengembangan ilmu Kesehatan terpadu yang bertujuan melahirkan tenaga medis dan professional Kesehatan unggulan.
Sejarah STIKES Adi Husada
Tahun 1923 – 1924 Sejarah lahirnya ADI HUSADA diprakarsai oleh dr. OIE KIAUW PIK.
Pada tanggal 25 November 1927 berdiri Perkumpulan Soe Swie Tiong Hwa Ie Wan yang saat ini namanya menjadi Perkumpulan Adi Husada. Pelaksanaan tujuan Perkumpulan Adi Husada dilakukan oleh ke-tiga lembaga yang dimilikinya yaitu :
- Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan
- Rumah Sakit Adi Husada Kapasari
- Akademi Keperawatan Adi Husada
Perkembangan lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Perkumpulan Adi Husada bermula dari tahun 1965. Saat itu Tiong Hoa Ie Wan mempunyai bagian pendidikan yaitu Sekolah Penjenang Kesehatan yang dipimpin oleh dr. Oei Liang Wan (dr.Ny.Wanny Kozan). Sekolah ini diperuntukkan bagi lulusan SMP dengan masa studi 1 tahun. Kemudian pada tahun 1967 dibuka Sekolah Pengatur Rawat (SPR) dengan masa studi 3 tahun untuk lulusan SMP, bersamaan dengan itu Sekolah Penjenang Kesehatan ditutup. Pada tahun 1972 – 1978 Sekolah Pengatur Rawat (SPR) dipimpin oleh dr. Lily Oetari Poerwanti.
Pada tahun 1978 sekolah tersebut dikonversi menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) tetap di bawah pimpinan dr. Lily Oetari Poerwanti dengan masa studi yang sama yaitu 3 tahun. Dibandingkan dengan Sekolah Pengatur Rawat, Sekolah Perawat Kesehatan hanya berbeda dalam hal kurikulum saja. Pada tahun 1980 – 1983 sekolah ini dipimpin oleh sdri Kamsiati. Pada masa itu diadakan pula Pendidikan Pembantu Perawat tepatnya sejak tahun 1981 dengan lama pendidikan 1 tahun dan bersifat service training yang dipimpim oleh sdri. Suparmi. Kepemimpinan di SPK ini kemudian dilanjutkan oleh sdri. Vincent E. Sumiani sampai dengan tahun 1985 dan dari tahun 1985 – 1986 dilanjutkan oleh sdri. Suparmi setelah Pendidikan Pembantu Perawat ditutup. Seiring dengan perkembangan situasi pendidikan tenaga keperawatan di Indonesia, maka pada tahun 1995 sekolah ini ditutup.
Tanggal 23 November 1983, Perkumpulan Adi Husada membuka Akademi Keperawatan Adi Husada yang merupakan Akademi Keperawatan tertua di Jawa Timur. Sekolah ini diprakarsai oleh dr. J. B. Djuanda dan dipimpin oleh dr.Soejoto Martoatmodjo sampai dengan bulan Oktober 1995, dan mulai bulan November 1995 sampai dengan bulan Oktober tahun 2002 dipimpin oleh dr. Lily Oetari Poerwanti . Awalnya hanya dibuka Kelas Reguler saja, tetapi dalam perkembangannya Akademi Keperawatan Adi Husada ditunjuk oleh Pusdiknakes DepKes untuk menyelenggarakan D-III Program Khusus bagi para perawat rumah sakit lulusan SPR/SPK tepatnya sejak bulan Januari 1998.
Berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan No. HK.00.06.4.3.3733 tanggal 19 Nopember 1997 ditetapkan memperoleh jenjang Akreditasi “A”.
Dan mulai bulan November 2002 sampai dengan 31 Desember 2016 dipimpin oleh dr. Ludy Hammami Handojo. Akademi Keperawatan Adi Husada terus berkembang memiliki Jalur Reguler dan Jalur Prestasi (PMDP) dimana untuk jalur prestasi mendapatkan diskon sebesar 50% untuk biaya Dana Pengembangan Pendidikan (DPP).
Akademi Keperawatan Adi Husada terus berkembang dan mendapatkan :
- Berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan No. HK.00.06.2.2.3777 tanggal 03 Desember 2002 ditetapkan memperoleh jenjang Akreditasi “B”.
- Piagam Penghargaan sebagai juara III lomba PHBS teladan di Institusi Pendidikan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam rangka Hari Kesehatan Nasional Ke-38 tahun 2002.
- Berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan No. HK.00.03.2.2.0166 tanggal 30 Januari 2008 ditetapkan memperoleh jenjang Akreditasi “B”.
- Piagam Penghargaan Sepuluh Terbaik 2009 Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Komunitas Donor Darah Sukarela dari Palang Merah Indonesia tertanggal 08 Mei 2010.
- Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi / BAN-PT No.028/BAN-PT/Ak-X/Dpl-III/I/2011 menyatakan bahwa Program Studi Diploma – Tiga Keperawatan Akademi Keperawatan Adi Husada Surabaya, terakreditasi dengan peringkat Akreditasi “C”.
- Berprestasi di bidang Kelembagaan & Tata Kelola (Kelompok Non Universitas) dari Kopertis Wilayah VII Jatim tertanggal 09 Maret 2011.
Lebih dari 12 tahun dipimpin oleh dr. Ludy Hammami Handojo yang sebelumnya Akper Adi Husada berlokasi di Jl. Telasih No. 28 Surabaya, banyak sekali perubahan yang dilakukan salah satunya yang menjadi impian di masa lampau yaitu memiliki gedung yang representatif guna mendukung pembelajaran untuk mencetak tenaga kesehatan professional yang handal khususnya di bidang keperawatan.
Pada tanggal 22 September 2013 Akademi Keperawatan Adi Husada mengadakan acara Grand Opening / Peresmian gedung baru sekaligus berpindah alamat dan berlokasi di Jl. Kapasari No. 95 Surabaya, lokasi bersebelahan dengan Rumah Sakit Adi Husada Kapasari. Langkah awal ini merupakan upaya menuju keberhasilan di masa depan dalam menghadapi era globalisasi yang semakin ketat.
Di tahun 2016 Akademi Keperawatan Adi Husada berhasil mendapatkan Akreditasi “B” Program Studi D-III Keperawatan dari LAM-PTKes (Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan) dengan surat keputusan No.0648/LAM-PTKes/Akr/Dip/VI/2016 dan mendapatkan peringkat ke-7 (tujuh) dalam rangka Anugerah Kampus Unggulan tingkat Akademi se Jawa Timur di lingkungan Kopertis Wilayah VII di tahun 2016 untuk penilaian tahun 2015 .
Tepat pada awal tahun 2017 Akademi Keperawatan Adi Husada dipimpin oleh Dewi Andriani, S.Kep.Ns.M.Kes. Beliau yang sebelumnya menjabat Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan di era kepemimpinan dr. Ludy Hammami Handojo, di tahun 2017 Akademi Keperawatan Adi Husada mendapatkan peringkat ke-9 (sembilan) dalam rangka Anugerah Kampus Unggulan tingkat Akademi se-Jawa Timur di lingkungan Kopertis Wilayah VII.
Pada tahun 2018 Akper Adi Husada berhasil mendapatkan Akreditasi Institusi dengan peringkat B berdasarkan Keputusan No.493/Sk/BAN-PT/Akred/PT/XII/2018 dari Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi.
Di tahun 2019 Akper Adi Husada menerima penghargaan sebagai Kampus Unggulan peringkat pertama se Jawa Timur dari LLDIKTI VII Jatim dan di tahun yang sama Akper Adi Husada melakukan perubahan bentuk institusi dari Akademi Keperawatan Adi Husada menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Adi Husada berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia No.483/KPT/I/2019 tertanggal 17 Juni 2019 resmi menjadi STIKes dan penambahan program studi baru yaitu S-1 Administrasi Rumah Sakit. STIKes Adi Husada akan terus berupaya melakukan yang terbaik untuk mengembangkan pendidikan khususnya bidang kesehatan di tanah air.
Setelah perubahan bentuk dari Akper ke STIKes maka perlu melakukan akreditasi institusi dan pada tanggal 11 Agustus 2020 STIKEs Adi Husada berhasil mendapatkan Akreditasi Institusi dari BAN-PT dengan peringkat “B” berdasarkan Keputusan BAN-PT No. 571/SK/BAN-PT/Ak-PNB/PT/VIII/2020 oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan pada tahun 2021 Program Studi D-III Keperawatan STIKes Adi Husada mendapatkan Akreditasi “Baik Sekali” berdasarkan Keputusan LAM-PTKes No.0396/LAM-PTKes/Akr/Dip/IX/2021 oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan.
Dalam upaya meningkatkan kontribusi di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan, institusi terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pada tahun 2023, secara resmi telah dibuka Program Studi S-1 Keperawatan bersama dengan Pendidikan Profesi Ners sebagai langkah strategis untuk mencetak perawat profesional yang kompeten, berintegritas, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Program Studi S-1 Keperawatan dirancang dengan kurikulum berbasis kompetensi yang mengintegrasikan ilmu keperawatan, ilmu biomedik, ilmu sosial, serta praktik klinik berbasis evidence-based practice. Proses pembelajaran menekankan keseimbangan antara teori, praktikum laboratorium, serta praktik klinik di rumah sakit, puskesmas, dan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Lulusan dipersiapkan untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara holistik, profesional, dan beretika.
Seiring dengan perkembangan kebutuhan layanan rehabilitasi kesehatan, pada tahun 2026 institusi kembali membuka Program Studi S-1 Fisioterapi. Pembukaan program studi ini menjadi wujud komitmen dalam menyediakan tenaga fisioterapis yang kompeten dalam promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kurikulum dirancang secara komprehensif dengan dukungan fasilitas laboratorium modern serta jejaring kerja sama dengan berbagai institusi pelayanan kesehatan.
DIREKTUR AKPER ADI HUSADA
- dr. Soejoto Martoatmodjo ( 1983 – 1995 )
- dr. Lily Oetari Poerwanti ( 1996 – 2002 )
- dr. Ludy Hammami Handojo ( 2002 – 2016 )
- Dewi Andriani, S.Kep.Ns.M.Kes. ( 2017 – 2019 )
KETUA STIKES ADI HUSADA
- Dewi Andriani, S.Kep.Ns.M.Kes. ( 2019 – 2021 )
- Rina Budi Kristiani,S.Kp.,M.Kep. ( 2021 – saat ini )
Sejarah STIKES RS HUSADA
Perkembangan Institusi Pendidikan Kesehatan STIKes RS Husada dimulai pada tahun 1943 sebagai Sekolah Juru Rawat (SJR). Seiring dengan perkembangan kebutuhan pelayanan kesehatan dan peningkatan mutu pendidikan, pada tahun 1949 lembaga ini berkembang menjadi Sekolah Pengatur Rawat (SPR). Selanjutnya, pada tahun 1980, institusi ini kembali mengalami peningkatan status menjadi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Perkembangan tersebut menunjukkan komitmen yang kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan. Pada tahun 1989, SPK RS Husada resmi meningkat menjadi Akademi Keperawatan (AkPer) RS Husada, yang berfokus pada pendidikan keperawatan tingkat diploma (D3 Keperawatan). Tonggak sejarah penting terjadi pada tanggal 17 Juni 2019, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 482/KPT/I/2019, AkPer RS Husada secara resmi ditetapkan menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) RS Husada. Sejak saat itu, STIKes RS Husada terus berkembang dan memperluas cakupan program pendidikannya.
Saat ini, STIKes RS Husada menyelenggarakan beberapa program studi, antara lain Program Studi S1 Keperawatan, Profesi Ners, Program Studi S1 Administrasi Kesehatan yang PERTAMA di Jakarta, Program Studi S1 Fisioterapi, Program Studi D4 Akupuntur dan Pengobatan Herbal, serta Program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) D3 ke S1 Keperawatan. Keberagaman program studi tersebut mencerminkan komitmen STIKes RS Husada dalam menjawab kebutuhan tenaga kesehatan yang profesional dan kompeten.
Sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan, STIKes RS Husada berkomitmen untuk menjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. STIKes RS Husada juga berupaya menghasilkan lulusan yang berkompeten, beretika, dan memiliki budi pekerti luhur, serta mampu bersaing di dunia kerja.Dalam pelaksanaan pelayanan dan pendidikannya, STIKes RS Husada menanamkan nilai SerQuaResNC, yang meliputi Service, Quality, Responsible, Networking, dan Continuous Improvement, sebagai landasan dalam menciptakan lulusan yang unggul dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.
Sejarah STIKES PANTI KOSALA
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Panti Kosala merupakan institusi pendidikan tinggi kesehatan yang tumbuh dan berkembang melalui proses yang panjang, penuh dedikasi, serta komitmen terhadap mutu pendidikan. Cikal bakal STIKES Panti Kosala bermula dari berdirinya Akademi Keperawatan (AKPER) Panti Kosala Surakarta pada tahun 1991, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.1380 tanggal 31 Mei 1991. Sejak awal pendiriannya, AKPER Panti Kosala mendapat kepercayaan luas dari masyarakat dengan dukungan kuat dari Yayasan Kesehatan Panti Kosala dan dua rumah sakit milik Yayasan yaitu Rumah Sakit Dr. OEN Surakarta dan Rumah Sakit Dr. OEN Solo Baru.
Pada masa awal pendirian, kegiatan akademik diselenggarakan di gedung yang berada di lingkungan Rumah Sakit Dr. OEN Surakarta hingga tahun 2007. Dalam perjalanannya, AKPER Panti Kosala terus menunjukkan komitmen terhadap kualitas penyelenggaraan pendidikan melalui berbagai capaian akreditasi yang membanggakan, baik di bawah pembinaan Departemen Kesehatan maupun setelah beralih pembinaan ke Kementerian Pendidikan Nasional sesuai kebijakan Sistem Pendidikan Nasional.
Tahun 2007 menjadi tonggak penting bagi AKPER Panti Kosala dengan ditempatinya kampus baru yang representatif di kawasan Solo Baru. Gedung kampus yang representatif semakin memperkuat kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dinamika penyelenggaraan pendidikan terus dihadapi dengan semangat perbaikan berkelanjutan, hingga akhirnya pada tahun 2020 AKPER Panti Kosala secara resmi bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Panti Kosala berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 827/M/2020 tanggal 2 September 2020.
Sebagai institusi yang terus berkembang, STIKES Panti Kosala membuka berbagai program studi di bidang keperawatan dan administrasi rumah sakit, serta berhasil meraih akreditasi institusi dengan peringkat “Baik Sekali” dari BAN-PT Berdasarkan Keputusan BAN-PT No.194/SK/BAN-PT/AK-ISK/PT/V/2022 dan seluruh program studi yang ada telah mendapatkan akreditasi dari LAM-PTKes. Perkembangan signifikan kembali dicapai pada tahun 2024 dengan terbitnya izin pembukaan Program Studi Sarjana Keperawatan dan Program Studi Pendidikan Profesi Ners pada tanggal 20 Mei 2024 dengan Nomor SK 312/E/O/2024, yang menandai kesiapan STIKES Panti Kosala dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang unggul.
Dengan dilandasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, STIKES Panti Kosala berkomitmen untuk terus mengembangkan diri dan menjadi Perguruan Tinggi unggul, inovatif dan adaptif yang dijiwai nilai budi pekerti luhur sehingga dapat terus menjalankan amanat mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan kesehatan yang bermutu dan berkarakter dengan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.